Perpisahan Yang Menyedihkan
Memangkas rindu yang tumbuh kering seperti alang-alang, semakin kutebas, semakin mereka meranggas. Hingga rasa lelah menasihatiku untuk berhenti dan membiarkan setiap malam dadaku meledak-ledak mengurangi waktu tidurku, sebab apalagi yang bisa kuperbuat ketika kau lenyap selain berkhayal indahnya pertemuan?Apabila esok hari bukan aku lagi yang kau khawatirkan, kau boleh mengetahui aku yang terlampau sering mengemis kepada jarum jam agar waktu berjalan cepat hingga kau dan aku berhadapan saling tatap,atau setidaknya berjalan mundur kembali ke waktu saat kita bersama
Apabila esok hari bukan aku lagi yang tiba-tiba membawa seikat bunga dan kau kegirangan tanpa aba-aba, kuharap itu bukan menjadi alasan kau melupakan tiap detil kenangan kita yang sebentar lagi kau makamkan dan kau tinggalkan.
Apabila esok hari ternyata ada orang lain yang kau cintai, ingatlah seseorang yang pernah begitu jatuh cinta padamu dalam gugup kali pertama menatap sepasang matamu yang serupa bintang jatuh.
Terima
kasih telah membuat hatiku hidup lagi setelah mengalami mati suri yang panjang,
sebab bila bukan karenamu, aku masihlah seorang pengecut yang tak pernah berani
menciptakan bahagiaku sendiri. Terima kasih juga untuk kesediaanmu untuk ada
untukku, karena aku selalu berangan dapat menghentikan waktu saat menggenggam
tanganmu. Terima kasih terakhir kalinya, karena berkatmu aku belajar dengan
baik menjadi aku.
Dan
apabila esok hari itu tiba, aku telah mengikhlaskanmu. Sebab merelakan
memang tak pernah sesederhana tangis perpisahan. Oleh karena hatiku
telah luluhlantak sepaket dengan iman dan raga yang nyaris tumbang pada
tiap kata yang mengakhiri tulisan ini, aku hanya ingin berkata sejujur-jujurnya
apabila esok hari itu tiba.
“Selamat
tinggal, aku pergi dalam keadaan sangat mencintaimu.”

0 comments:
Posting Komentar